5. Ingatan Kuat
07.00 WIB
275 km menuju Banyuwangi.
-TIIIIIIN!!!
Suara klakson nyaring memekakkan, bersahutan. Jalan utama provinsi yang biasanya padat, kini benar- benar seolah tak bergerak. Begitu Yatra keluar dari wilayah Surabaya— bundaran Waru, kemacetannya sudah mulai terasa.
Jumlah mobil yang melintas berlipat. Beberapa kali Yatra berpapasan dengan rombongan turing moge menyebalkan yang dengan seenaknya memotong— main klakson dan sirine, berkendara serampangan ditengah macet. Belum lagi kendaraan besar; bus- bus pariwisata, truk logistik dan kontainer.
Long weekend yang benar- benar sibuk.
Yatra sedikit merutuk di balik helm nya. Ia yang berangkat dari Surabaya selepas subuh saja masih terjebak macet, terutama di jalanan Sidoarjo. Seharusnya ia tiba di wilayah Bangil ini 30-45 menit yang lalu.
Yatra melajukan motor nya perlahan, mencoba memasuki celah- celah kosong di antara kendaraan roda empat. Rasanya ia ingin mengumpat saja.
Jalan raya di wilayah Bangil ini bisa dibilang agak sempit, ditambah sepanjang jalan banyak mobil dan becak yang terparkir.
Benar- benar seperti macet total. Bahkan saat ini, arus kendaraan benar- benar berhenti karena lampu merah yang masih jauh di depan sana.
Yantra melepas setang, duduk sambil menegakkan punggung. Ia meregangkan badan sejenak, lalu meraih sesuatu dari kantong samping ransel militernya.
Sebuah kaleng soda.
Yatra menaikkan visor helm pilotnya sampai atas dahi. Lalu ia membuka kait minuman sodanya.
-klik.
Sejumlah buih soda meluap hingga hampir luber. Yatra segera meneguk minumannya itu —yang tentu saja tidak dingin lagi karena macet, namun setidaknya bisa membasahi kerongkongannya.
Saat Yatra sedang menenggak soda, ia baru menyadari bahwa seorang anak TK tengah menatapnya lekat. Anak itu menempelkan wajah dari dalam jendela mobil yang tepat berada di samping Yatra di tengah macet.
"..." Yatra dan anak itu bertatapan beberapa saat.
Lalu Yatra meneguk sodanya kembali sambil terus melirik ke anak itu. Memperlihatkan betapa segarnya minuman soda dengan sensasi menggelitik di mulut.
Yang mana membuat anak TK itu langsung berujar kepada sang ibu di kursi depan.
"Ma, aku mau coca cola!"
"Hah? Tadi mampir Indomaret ditanyain mau beli apa kamu malah ambil minuman Pororo!" sahut ibunya yang membuka- buka kantong belanjaan. "Ya ini, minum aja!"
"Nggak mau!" anak TK itu merengek. "Maunya coca cola!"
"Minum ini!" sang ibu meninggi. "Kan kamu sendiri yang pilih!!"
Sementara sang ayah hanya mengusap wajahnya yang sudah kusut, menahan emosi mendengar ribut- ribut di dalam mobil, di tengah kemacetan panjang ini.
"..." Yatra melempar kaleng kosongnya ke tempat sampah di depan seperti pemain basket. Lalu ia mengoper gear satu, melaju pelan mengisi celah kosong. Ia terkekeh kecil mendengar sedikit kekacauan di dalam mobil itu di belakang.
Kekacauan yang terasa hidup.
Dan hangat.
Seperti keluarga fungsional pada umumnya.
Yatra terus melajukan scramblernya pelan dengan kedua kaki menapak. Sambil terus melewati celah, ingatannya melayang jauh ke masa ia masih seusia anak TK itu.
Saat masa libur sekolah.
Yatra ingat sekali ia pernah merengek- rengek kepada Bapak untuk diajak jalan- jalan ke kota. Seperti cerita teman- temannya yang berlibur dengan keluarga ke tempat- tempat keren di mall, taman kota dan sebagainya.
Ia juga ingat bagaimana reaksi Bapak yang hanya tertawa melihat Yatra kecil bergulingan di lantai— menyebalkan sekali.
Lalu sore harinya, Bapak mengajak Yatra keluar. Mengendarai motor supra trondol yang biasa Bapak pakai ke sawah. Dengan ibu bonceng di belakang, dan Yatra di depan.
Bapak berkendara pelan sekali, bahkan Yatra sempat marah- marah saat beberapa becak menyalip mereka. Bapak hanya tertawa mengusap kepala Yatra, sementara ibu menenangkannya.
Lalu Bapak menepikan motor Supra nya. Di tepi jalan, dan mengajak Yatra duduk di pelabuhan Ketapang. Menonton kapal- kapal Ferry yang berlalu lalang mengangkut kendaraan melintasi perairan.
Bapak menunjuk sambil bercerita banyak, dengan Yatra melompat- lompat senang melihat banyak bus, truk molen dan mobil- mobil besar yang melewati pintu ram kapal.
Ibu sesekali menanggapi, sambil terus menyuapi Yatra dengan bekal mie goreng dingin yang sudah berbentuk kotak itu.
Di tepi debur ombak Selat Bali yang tenang. Di bawah langit sore yang berwarna kemerahan.
-bruuuumm.
Suara stereo mesin dua silinder Yatra mengembalikannya ke tengah jalanan macet.
Yatra tersenyum tipis.
Bahwa acara jalan- jalan dadakan Bapak waktu itu, justru menjadi core memory Yatra yang bahkan ia ingat sampai sekarang.
Ia menghela nafas panjang.
Rasanya ia rela menukar apa saja untuk bisa mengulang momen itu sekarang.
Dan rasanya, ia tak sabar untuk melihat Bapak saat ia kembali pulang.
275 km menuju Banyuwangi.
-TIIIIIIN!!!
Suara klakson nyaring memekakkan, bersahutan. Jalan utama provinsi yang biasanya padat, kini benar- benar seolah tak bergerak. Begitu Yatra keluar dari wilayah Surabaya— bundaran Waru, kemacetannya sudah mulai terasa.
Jumlah mobil yang melintas berlipat. Beberapa kali Yatra berpapasan dengan rombongan turing moge menyebalkan yang dengan seenaknya memotong— main klakson dan sirine, berkendara serampangan ditengah macet. Belum lagi kendaraan besar; bus- bus pariwisata, truk logistik dan kontainer.
Long weekend yang benar- benar sibuk.
Yatra sedikit merutuk di balik helm nya. Ia yang berangkat dari Surabaya selepas subuh saja masih terjebak macet, terutama di jalanan Sidoarjo. Seharusnya ia tiba di wilayah Bangil ini 30-45 menit yang lalu.
Yatra melajukan motor nya perlahan, mencoba memasuki celah- celah kosong di antara kendaraan roda empat. Rasanya ia ingin mengumpat saja.
Jalan raya di wilayah Bangil ini bisa dibilang agak sempit, ditambah sepanjang jalan banyak mobil dan becak yang terparkir.
Benar- benar seperti macet total. Bahkan saat ini, arus kendaraan benar- benar berhenti karena lampu merah yang masih jauh di depan sana.
Yantra melepas setang, duduk sambil menegakkan punggung. Ia meregangkan badan sejenak, lalu meraih sesuatu dari kantong samping ransel militernya.
Sebuah kaleng soda.
Yatra menaikkan visor helm pilotnya sampai atas dahi. Lalu ia membuka kait minuman sodanya.
-klik.
Sejumlah buih soda meluap hingga hampir luber. Yatra segera meneguk minumannya itu —yang tentu saja tidak dingin lagi karena macet, namun setidaknya bisa membasahi kerongkongannya.
Saat Yatra sedang menenggak soda, ia baru menyadari bahwa seorang anak TK tengah menatapnya lekat. Anak itu menempelkan wajah dari dalam jendela mobil yang tepat berada di samping Yatra di tengah macet.
"..." Yatra dan anak itu bertatapan beberapa saat.
Lalu Yatra meneguk sodanya kembali sambil terus melirik ke anak itu. Memperlihatkan betapa segarnya minuman soda dengan sensasi menggelitik di mulut.
Yang mana membuat anak TK itu langsung berujar kepada sang ibu di kursi depan.
"Ma, aku mau coca cola!"
"Hah? Tadi mampir Indomaret ditanyain mau beli apa kamu malah ambil minuman Pororo!" sahut ibunya yang membuka- buka kantong belanjaan. "Ya ini, minum aja!"
"Nggak mau!" anak TK itu merengek. "Maunya coca cola!"
"Minum ini!" sang ibu meninggi. "Kan kamu sendiri yang pilih!!"
Sementara sang ayah hanya mengusap wajahnya yang sudah kusut, menahan emosi mendengar ribut- ribut di dalam mobil, di tengah kemacetan panjang ini.
"..." Yatra melempar kaleng kosongnya ke tempat sampah di depan seperti pemain basket. Lalu ia mengoper gear satu, melaju pelan mengisi celah kosong. Ia terkekeh kecil mendengar sedikit kekacauan di dalam mobil itu di belakang.
Kekacauan yang terasa hidup.
Dan hangat.
Seperti keluarga fungsional pada umumnya.
Yatra terus melajukan scramblernya pelan dengan kedua kaki menapak. Sambil terus melewati celah, ingatannya melayang jauh ke masa ia masih seusia anak TK itu.
Saat masa libur sekolah.
Yatra ingat sekali ia pernah merengek- rengek kepada Bapak untuk diajak jalan- jalan ke kota. Seperti cerita teman- temannya yang berlibur dengan keluarga ke tempat- tempat keren di mall, taman kota dan sebagainya.
Ia juga ingat bagaimana reaksi Bapak yang hanya tertawa melihat Yatra kecil bergulingan di lantai— menyebalkan sekali.
Lalu sore harinya, Bapak mengajak Yatra keluar. Mengendarai motor supra trondol yang biasa Bapak pakai ke sawah. Dengan ibu bonceng di belakang, dan Yatra di depan.
Bapak berkendara pelan sekali, bahkan Yatra sempat marah- marah saat beberapa becak menyalip mereka. Bapak hanya tertawa mengusap kepala Yatra, sementara ibu menenangkannya.
Lalu Bapak menepikan motor Supra nya. Di tepi jalan, dan mengajak Yatra duduk di pelabuhan Ketapang. Menonton kapal- kapal Ferry yang berlalu lalang mengangkut kendaraan melintasi perairan.
Bapak menunjuk sambil bercerita banyak, dengan Yatra melompat- lompat senang melihat banyak bus, truk molen dan mobil- mobil besar yang melewati pintu ram kapal.
Ibu sesekali menanggapi, sambil terus menyuapi Yatra dengan bekal mie goreng dingin yang sudah berbentuk kotak itu.
Di tepi debur ombak Selat Bali yang tenang. Di bawah langit sore yang berwarna kemerahan.
-bruuuumm.
Suara stereo mesin dua silinder Yatra mengembalikannya ke tengah jalanan macet.
Yatra tersenyum tipis.
Bahwa acara jalan- jalan dadakan Bapak waktu itu, justru menjadi core memory Yatra yang bahkan ia ingat sampai sekarang.
Ia menghela nafas panjang.
Rasanya ia rela menukar apa saja untuk bisa mengulang momen itu sekarang.
Dan rasanya, ia tak sabar untuk melihat Bapak saat ia kembali pulang.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...